Abang gerobak dan filosofi rasa

Aku baru sadar, Abang Mie Ayam di Jalan Soekarno itu adalah seorang filsuf rasa. Dia tidak pernah terburu-buru, tapi tangannya cekatan. Dia tahu persis berapa detik mie harus direbus agar mencapai tingkat al dente sempurna ala Indonesia.
Mie ayam adalah pelajaran tentang keseimbangan. Kenapa kita selalu butuh kuah dan mie kering bersamaan? Kuah mewakili kelembutan, pemersatu. Sementara mie kering dan bumbu pekat adalah kekuatan, inti dari rasa itu sendiri. Dan acar cabe rawit di sampingnya? Itu adalah kejutan hidup, asam yang tajam di tengah kemanisan. Saat aku menyantap mie ayamnya, aku tidak hanya makan, aku sedang menghargai seni—seni menyajikan kebahagiaan seharga Rp15.000, yang selalu terasa lebih mewah dari santapan mahal manapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on