Beranjak dewasa (Nadin Amizah)
Desember, langit di luar terasa seperti kanvas yang baru selesai dilukis oleh mendung. Hari ini, aku berdiri di tengah serambi, mengamati bagaimana waktu mencuri perlahan semua janjiku yang dulu kukira abadi. Sebuah buku usang terbuka di pangkuan; di sana, wajahku yang dulu masih berupa sketsa kasar kini telah memiliki garis-garis tegas yang tak bisa lagi dicuci oleh air mata. Mereka bilang, tumbuh adalah menjadi tangguh. Tapi, mengapa aku merasa kehilangan bagian terbaik dari diriku di setiap langkah menuju matahari terbit? Aku merindukan tawa yang belum tahu cara bersembunyi. Aku merindukan rumah yang tak perlu lagi kucari definisinya. Mungkin, beranjak dewasa adalah seni merelakan: merelakan yang lama agar yang baru punya ruang, meski ruang itu terasa dingin dan asing.
Komentar
Posting Komentar