Berpayung Tuhan (Nadin Amizah)

Hari ini hujan turun, tapi tak sedikit pun aku merasa basah. Ada selimut tak kasat mata yang melindungiku dari derita yang seharusnya menderu. Dalam keheningan, aku mendengar bisikan yang lebih nyata dari suara-suara di sekelilingku. Kau pergi, namun kau meninggalkan warisan terindah: keyakinan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Di atas kepala ini, terentang janji-janji agung, sebuah kasih yang tak pernah menuntut balasan. Aku berjalan di bawah langit yang penuh misteri, dan setiap batu sandungan terasa seperti bimbingan. Jiwaku kini berpayung Tuhan, sebuah perlindungan yang tak lekang oleh musim atau pengkhianatan manusia. Di bawah payung ini, aku berani menjadi rapuh, sebab aku tahu, setiap air mata yang jatuh sedang dihitung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on