elegi kota kembang yang tak pernah pudar

Aku berjalan menyusuri trotoar Dago, di mana aspalnya masih menyimpan jejak sepatu kanvas kita yang dahulu tak pernah lelah. Bandung, engkau adalah kanvas tempat kita menorehkan kebodohan yang paling indah.
Dulu, kita mencari definisi kebahagiaan di sudut-sudut kafe, di antara buku-buku yang tak pernah selesai dibaca. Lagu tentang Bandung ini bukan sekadar deskripsi geografi; ia adalah elegi tentang masa lalu yang kini terasa seperti dongeng. Danilla menyanyikannya dengan suara sehalus sutra, seolah-olah mengusap lembut debu dari kenangan kita. Engkau, Kota Kembang, adalah saksi bagaimana dua jiwa muda saling menemukan, dan bagaimana dua jiwa yang sama, kini harus saling kehilangan dalam kesunyian yang bermartabat. Kita tumbuh, tapi Bandung, engkau kekal di tempatmu—cantik, dingin, dan penuh misteri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on