kisah klasik sebelum kita tau akhirnya

Mengenang kita yang dulu. Ah, betapa bodohnya, betapa berani dan tanpa beban. Kita adalah puisi berjalan yang tak peduli pada tata bahasa. Lagu ini adalah kapsul waktu yang sempurna, mengingatkanku bahwa kita pernah merayakan hal-hal kecil: es krim di Cihampelas, sepasang kaos kaki yang sama, dan debat serius tentang film yang baru tayang.
Kita merajut mimpi di atas atap rumah, di mana langit terasa begitu dekat, dan masa depan tampak tak terbatas. Kita tidak pernah berpikir tentang perpisahan, karena bagi remaja, waktu adalah kekal. "Dulu Kita Masih Remaja," lirik itu kini menjadi deskripsi status yang telah usang. Kami adalah edisi terbatas dari keberanian yang tidak tahu malu. Kesendirian ini sekarang terasa seperti konsekuensi logis dari waktu yang tak bisa ditahan; kita adalah dua jalur kereta yang pernah bertemu di stasiun yang sama, hanya untuk berpisah, menuju takdir yang berbeda. Namun, terima kasih, karena kenangan itu adalah harta yang takkan pernah bisa dicuri oleh waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on