malam dingin dan mangkok hangat
Malam ini Bandung terasa menusuk. Dingin sekali. Dan tiba-tiba, yang kuinginkan hanyalah kehangatan yang sederhana, yang akrab. Aku pergi ke kedai mie ayam langganan di tikungan komplek. Aku pesan mie ayam bakso pangsit, lengkap.
Mie ayam itu adalah definisi kenyamanan bagiku. Bukan hanya soal rasa, tapi ritualnya: membuang sedikit kuah agar bumbu di dasar mangkok terasa pekat, menaburkan banyak sambal yang pedasnya menghangatkan tenggorokan, dan mencampurkannya dengan kecap manis hingga warna mienya cokelat mengkilat. Setiap suapan adalah pelukan. Rasa gurih ayam cincang yang manis, kekenyalan mie yang pas, dan kriuk pangsit goreng yang renyah. Mie ayam bukan sekadar makanan; ia adalah terapi instan untuk hari-hari yang terasa berat.
Komentar
Posting Komentar