Menangis Di Jalan Pulang (Nadin Amizah)
Kota ini terasa begitu besar dan bising, merayakan keberhasilannya sementara aku hanyalah butiran debu yang terbawa angin. Tadi, di hadapan banyak wajah, aku memakai topeng paling sempurna, senyum yang tak meninggalkan bekas kerutan. Tapi kini, langkah kaki ini membawaku kembali pada sepi yang jujur. Aku membiarkan bahuku melonggar, membiarkan pertahanan itu runtuh. Air mata adalah satu-satunya bahasa yang tak perlu dikoreksi. Aku tak tahu mengapa ia tumpah, apakah ini lelah, rindu, atau sekadar kesadaran pahit bahwa rumah yang kukunjungi tak lagi sama. Malam ini, aku menangis di jalan pulang, dan setiap tetesan adalah pengakuan sunyi bahwa aku masih berusaha menjadi manusia yang kuat, padahal hatiku hanyalah anak kecil yang mencari ibunya.
Komentar
Posting Komentar