Mendarah (Nadin Amizah)
Senja kali ini beraroma tembakau dan penyesalan. Aku memeluk bayanganku sendiri, merasakan bagaimana ia telah menjadi rumah bagiku, rumah yang dibangun dari ketiadaanmu. Ada yang aneh dengan kehilangan ini; ia bukan lagi luka yang berdenyut, melainkan sebuah denyutan baru yang menggantikan detak jantungku yang lama. Kau tidak pergi; kau hanya berubah bentuk menjadi esensi. Setiap tarikan napas, setiap aliran darah, membawa serta sebaris kenangan yang tak terhapus. Cintaku padamu tidak lagi di kulit, tidak lagi di udara. Ia telah mendarah, menjadi pigmen takdir yang mewarnai setiap sel, membuatku abadi dalam rasa sakit yang manis dan tak terhindarkan. Aku adalah monumen hidup untuk sebuah perpisahan yang tak pernah selesai.
Komentar
Posting Komentar