Rayuan perempuan gila (Nadin Amizah)

Pagi menyentuhku dengan dinginnya keraguan. Aku melihat pantulan diriku di cermin; matanya berkisah tentang badai dan luka yang tak terjamah. Aku tahu, aku adalah labirin yang rumit, penuh pintu yang terkunci dan teka-teki yang tak seorang pun ingin pecahkan. Dia datang, dengan segala kebaikannya yang sederhana, mencoba menyusun serpihan-serpihan yang bahkan aku sendiri sudah lelah mengumpulkannya. Aku ingin berteriak padanya: Pergilah! Aku adalah bencana yang sedang menunggu waktu untuk meledak! Aku mencoba memberinya peringatan, merangkai kata-kata pedas sebagai rayuan perempuan gila, berharap ia takut dan meninggalkanku. Tapi, ia hanya tersenyum. Dan senyum itu, sungguh berbahaya, sebab ia membuatku ingin percaya bahwa ada tempat di dunia ini yang mau menerima kegilaanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on