Rumpang (Nadin Amizah)

Ada sebuah lubang tak berbentuk di tengah-tengah hari-hariku. Sebuah kekosongan yang tak bisa diisi oleh hiruk-pikuk atau percakapan ringan. Dulu, ia adalah sebuah entitas, hadir dalam tawa dan sentuhan. Sekarang, ia menjadi absen, menjadi sebuah rumpang yang justru terasa lebih padat dan nyata daripada kehadirannya yang dulu. Aku berjalan, melakukan rutinitas, tersenyum pada orang-orang, tapi di balik semua itu, ada ruangan yang terus menggema dan berteriak memanggil nama yang tak lagi bisa menjawab. Aku berusaha menambalnya dengan kenangan, tapi kenangan itu justru seperti pisau yang mengukir luka baru. Mungkin, rumpang ini adalah warisan terindah darimu: pengingat abadi bahwa segala yang pernah ada akan selalu memiliki bekasnya, meski telah tiada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

catatan di masa lalu

freindzone

2 langkah menuju move on