senandung sunyi sang peniup harmonika
Malam ini, Bandung memelukku dengan kabut yang dingin, dan lagu itu terputar lagi, menusuk dengan melodi yang terlalu jujur. Rindu, rupanya, adalah pertunjukan tunggal. Aku duduk di sini, hanya aku dan cangkir kopi yang telah mendingin, seperti janji-janji yang tak sempat ditepati.
Dulu, aku percaya rindu harus diucapkan, diteriakkan dari Puncak Bintang hingga suaranya menyentuh kota. Kini, aku tahu rindu yang paling murni adalah rindu yang dihela dalam diam, yang menjadi irama latar dari setiap langkahku. Ia seperti lirik yang Iqbaal bisikkan—pengakuan bahwa aku adalah penyaksi dari kesendirianku sendiri. Ini bukan kesedihan, melainkan penerimaan. Bahwa di antara riuh rendah kehidupan, ada ruang sunyi yang harus kuisi sendiri, dengan kenangan dan sebait melodi yang hanya bisa kudengar di dalam kepalaku.
Komentar
Posting Komentar